Mungkin banyak yang nggak percaya dengan kata-kata saya di atas tadi. Tapi nggak apa-apa. Saya sendiri semenjak lulus SMA 9 tahun yang lalu dan pindah ke sini juga selalu menganggap sebaliknya. Betapa bahagianya anak-anak di Amerika yang hidup di negeri berkecukupan. Nggak pernah ngerasain kerusuhan, nggak perlu mikir biaya sekolah (setidaknya kalo masuk public school). Sampai pikiran saya berubah hari ini hanya gara-gara benda sepele: biang es (dry ice).
Waktu saya kecil dulu, setiap beli es krim di supermarket, pasti dibungkus dengan biang es dari supermarket-nya. Atau bisa juga beli biang es dibeli di tukang-tukang es krim yang mangkal di depan sekolahan. Nah, biasanya saya paling seneng dulu maen biang es itu. Dicemplungin ke baskom isi air gitu. Kalo pas belinya di sekolahan ya biasanya dicemplungin ke got…. keren gotnya jadi berasap seperti kalo ada bom gitu… Yang lebih nakal lagi, kadang-kadang biang esnya dimasukkin ke dalam baju temen. Biasanya bakal rada kelejotan karena punggungnya perih hehehe….
Kembali ke hari ini, kebetulan di kantor datang sample Popsicle dari salah satu licensee kami. Entah juga kenapa koq ngirim di tengah hari gerimis begini. Yang jelas Pospsicle-popsicle itu dikirim dengan biang es. Saya sih biasa-biasa aja wong pikir saya juga cuma biang es. Eh, sampe tiba-tiba entah gimana ada satu temen kantor saya yang “menemukan” fakta kalo biang es bercampur air itu bakal berasap. Lantas dia menceritakan ini ke anak-anak kantor dan banyak yang heboh pengen nyoba. Semua pada ikut-ikut nyemplungin biang es ke dalam gelas dan diisi air. Bahkan ada yang difoto atau direkam pake hape. Sampe-sampe Direktur kantor aja ikutan!! Walah… ndeso kalian!!! Saya nanya sama mereka emangnya waktu kecil ngga pernah maen begini, katanya seumur-umur belum pernah lihat biang es. Walah…..
Maka dari itu…. saya menyimpulkan (setidaknya karena peristiwa hari ini) kalau anak-anak Indonesia lebih beruntung dibanding anak-anak Amerika. Malu kan kalo sampe udah umur 30-an aja belum pernah maen biang es…. hehehe….. Hidup Indonesia!
artikel ini dimuat juga di blog kompasiana: http://lifestyle.kompasiana.com/group/urban/2010/10/01/anak-indonesia-lebih-bahagia-daripada-anak-amerika/
Tulisan Crownz
Thursday, September 30, 2010
Wednesday, September 8, 2010
Siapa di antara anda yang sudah sedemikian kecanduan mendengarkan musik melalui pemutar mp3 ketika sedang berada di tempat-tempat umum? Jujur, saya termasuk salah satu di antara ratusan juta orang di dunia ini yang mungkin mengalami hal yang sama. Ini bukan perkara gagah-gagahan atau sok pamer punya mp3 player atau headphone beharga mahal. Bukan, sama sekali bukan! Ini adalah karena ketika kita sedang berada di ruang publik, terkadang kita membutuhkan ruang pribadi untuk diri kita sendiri. Maka mendengarkan mp3 pun menjadi salah satu solusi yang mujarab.
Maka ketika pagi ini saya kelupaan bawa earphone, sempat dongkol juga rasanya. Apesnya, saya baru sadar ketika sudah berada di dalam stasiun subway. Apalagi pagi ini saya buru-buru berangkat dari rumah gara-gara kesiangan bangun. Jadi mau balik ke rumah pun jelas sudah nggak mungkin. Bisa-bisa semakin telat sampai kantor.
Akibatnya di kereta saya terpaksa mau nggak mau mendengarkan suara-suara yang menurut saya ngga enak untuk didengar. Biasanya, sambil dengerin mp3, ga bakal kedengeran suara roda kereta yang beradu dengan rel atau suara beberapa penumpang yang berangkat bareng dan saling ngobrol atau bahkan orang homeless yang (maaf) agak kurang waras dan ngomel-ngomel sendiri. Yang seperti ini biasanya bakal di-blokir oleh suara merdu Nancy Ajram atau Edith Piaf yang mengalir dengan lembut melalui earphone. Yah, mungkin nggak tepat juga dibilang lembut soalnya kalau di kereta saya nyetel volumenya cukup keras juga.
Begitu sampai kantor, berhubung ngga bawa earphone, ya saya juga cuma bisa pasrah saja. Dengan terpaksa mendegarkan obrolan dan cekikikan cewek-cewek sales dari seberang cubicle saya itu, walau saya sebenernya nggak niat nguping loh. Cuma karena mereka saking cempreng dan kerasnya, yah mau bagaimana lagi.
Tapi pernah juga lho gara-gara earphone ini saya hampir mendapat celaka. Ceritanya karena saya keasyikan kerja sambil mendengarkan mp3 online di komputer (atau ndengerin mp3 sambil kerja yah? Hehe), saya jadi nggak denger suara telepon berdering. Mungkin karena volume mp3 yang terlalu keras. Apesnya yang telepon ini CFO perusahaan, yang berarti bos-nya bos-nya bos saya alias bos pangkat 3. Mungkin karena lagi buru-buru dia langsung dateng ke tempat saya dan sambil senyum nunjuk ke arah earphone saya. Untung aja mood-nya lagi baik hari itu, kalo ngga, wah nggak tau deh gimana hehehe….
Memang ternyata di jaman abad 21 ini kita bener-bener butuh benda yang bernama headphone atau earphone ini untuk membebaskan telinga kita dari suara-suara yang menurut kita nggak enak didengar. Sebagai manusia, kita hanya mau mendengarkan suara-suara yang menurut kita indah dan merdu untuk didengar. Tapi, sebagaimana pengalaman saya di atas, suara-suara yang merdu dan indah itupun bisa menutup kita dari kenyataan yang ada dan bahkan bisa saja berakibat fatal.
Nah, dari sini saya jadi kepikiran. Apakah para pejabat dan orang-orang penting di Republik Indonesia dalam bekerja sehari-harinya juga lebih memilih menggunakan headphone? Tentunya headphone yang saya maksud bukanlah headphone dalam arti yang sesungguhnya. Maksud saya di sini apakah bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat hanya memilih untuk mendengarkan suara-suara yang indah didengar saja dan memilih untuk menutup telinga dari apapun yang tidak enak didengar? Kritikan-kritikan dan fakta-fakta buruk yang ada di lapangan, apakah semuanya dipinggirkan begitu saja dan tidak didengarkan? Akankah dibiarkan saja suara rakyat? Harapan saya sih tidak. Karena berbeda dengan saya yang hanya rakyat kebanyakan, mereka adalah orang-orang penting, pilihan di bidangnya, dan merupakan pilihan rakyat. Maka, saya percaya para pemimpin, pejabat, dan orang-orang penting negara ini juga mendengarkan, menyimak, dan memperhatikan “suara-suara yang tidak enak didengar” itu. Betul khan? Atau saya salah lagi dalam hal ini?
Tuesday, September 7, 2010
Made in Indonesia
Sore ini tadi saya minum teh Gopek beraroma Jasmine. Jujur aja saya merasa lega banget adik saya nemu teh ini di lemari dapur apartement kami, dan untungnya lagi belum basi hehehe.... Yang jelas, teh ini diseruput anget-anget rasanya sangat enak. Kenapa saya ngomong begini? Karena sudah beberapa hari ini minumnya teh India yang (menurut saya) baunya malah seperti obat batuk rasa cherry. Berhubung tempat yang jualan barang-barang Indonesia agak jauh, maka terpaksa minum teh beraroma cherry (obat batuk) itu.......
Gara-gara soal teh ini, saya jadi kepikiran tentang barang-barang bikinan Indonesia. Sekarang ini, menurut saya, barang-barang bikinan Indonesia secara persentase jumlahnya makin dikit kalo dibandingin buatan negara lain. Misalnya kalo sekarang ini saya mau beli barang, entah itu mulai dari sekedar pensil sampai iphone4 yang rela bikin orang ngantri berjam-jam, kemungkinan besar pasti barang tersebut berlabelkan "Made in China". Bahkan pakaian-pakaian berlabel desainer kelas dunia pun mayoritas buatan China. Padahal bisa dipastikan 20 tahun yang lalu, hal ini belum terjadi.
Jangankan dibandingkan dengan China, dengan negara-negara tetangga ASEAN aja Indonesia kalah. Contohnya? ya dilihat saja industri otomotif di tanah air. Dari segi jumlah model, mayoritas pasti rakitan Thailand. Bisa dibilang yang dirakit Indonesia kalah teknologinya (harganya juga) dengan yang rakitan Thailand. Emangnya apa hebatnya sih Thailand dibanding Indonesia? Kalo rakitan Jerman, Jepang, atau Amerika sih saya bisa paham. Perasaan jaman saya masih SD atau SMP dulu, semua mobil dirakit di Indonesia. Kalaupun import (dan ini biasanya cuma yang super special aja, ga seperti sekarang) juga dari negara asalnya, bukan dari Thailand!
Lha lantas gimana? Yang menyebabkan ini semua apa? Kenapa koq negara lain bisa jadi basis produksi sementara Indonesia semakin kalah bersaing? Apa ini karena barang-barang buatan Indonesia jelek kualitasnya? Atau karena ini persoalan infrastruktur yang ngga memadai? Atau karena permasalahan birokrasi? Atau karena bangsa kita selalu menganggap buatan luar negeri, ga peduli luar negerinya mana, itu selalu superior? Dan mungkin masih banyak atau-atau yang lain yang entah bisa sampai berapa banyak lagi kalau mau disebutkan satu persatu.
Jadi? Solusinya? Ya saya bukanlah pembuat kebijakan yang punya wewenang untuk mengatur atau mengubah ini menjadi itu atau A menjadi B. Jadi dalam hal ini saya ngga akan nulis panjang lebar di sini. Tokh, saya rasa udah banyak juga yang memberi solusi kok. Tinggal pelaksanaannya saja.....
Nah, sekarang kembali aja ke diri masing-masing. Seperti halnya soal teh gopek tadi, saya sebisa mungkin beli barang bikinan Indonesia. Mie Instant, ngga bisa berpaling hati, tetep saya setia dengan Indomie sampe numpuk di lemari dapur. Bumbu-bumbu instant juga (Ketahuan ga bisa masak yah heheh....). Jujur aja jaman dulu (banget) saya juga selalu mikir "ah bikinan Indonesia". Tapi sejak kapan pikiran ini berubah, saya sendiri ga tau dan untungnya berubah! Yang pasti kalo sedang mau beli sesuatu dan ada pilihan di mana salah satu dari product tersebut berlabel "Made in Indonesia", maka saya langsung ambil barang itu walau kadang lebih mahal dibanding yang bikinan China misalnya. Yah agak bias sih memang, tapi ga apa-apalah. Pokoknya, (ngutip iklan Maspion jaman dulu) "Cintailah produk-produk buatan Indonesia".
p.s: Gambar mousepad di atas ngutip dari pemiliknya tanpa ijin
Gara-gara soal teh ini, saya jadi kepikiran tentang barang-barang bikinan Indonesia. Sekarang ini, menurut saya, barang-barang bikinan Indonesia secara persentase jumlahnya makin dikit kalo dibandingin buatan negara lain. Misalnya kalo sekarang ini saya mau beli barang, entah itu mulai dari sekedar pensil sampai iphone4 yang rela bikin orang ngantri berjam-jam, kemungkinan besar pasti barang tersebut berlabelkan "Made in China". Bahkan pakaian-pakaian berlabel desainer kelas dunia pun mayoritas buatan China. Padahal bisa dipastikan 20 tahun yang lalu, hal ini belum terjadi.
Jangankan dibandingkan dengan China, dengan negara-negara tetangga ASEAN aja Indonesia kalah. Contohnya? ya dilihat saja industri otomotif di tanah air. Dari segi jumlah model, mayoritas pasti rakitan Thailand. Bisa dibilang yang dirakit Indonesia kalah teknologinya (harganya juga) dengan yang rakitan Thailand. Emangnya apa hebatnya sih Thailand dibanding Indonesia? Kalo rakitan Jerman, Jepang, atau Amerika sih saya bisa paham. Perasaan jaman saya masih SD atau SMP dulu, semua mobil dirakit di Indonesia. Kalaupun import (dan ini biasanya cuma yang super special aja, ga seperti sekarang) juga dari negara asalnya, bukan dari Thailand!
Lha lantas gimana? Yang menyebabkan ini semua apa? Kenapa koq negara lain bisa jadi basis produksi sementara Indonesia semakin kalah bersaing? Apa ini karena barang-barang buatan Indonesia jelek kualitasnya? Atau karena ini persoalan infrastruktur yang ngga memadai? Atau karena permasalahan birokrasi? Atau karena bangsa kita selalu menganggap buatan luar negeri, ga peduli luar negerinya mana, itu selalu superior? Dan mungkin masih banyak atau-atau yang lain yang entah bisa sampai berapa banyak lagi kalau mau disebutkan satu persatu.
Jadi? Solusinya? Ya saya bukanlah pembuat kebijakan yang punya wewenang untuk mengatur atau mengubah ini menjadi itu atau A menjadi B. Jadi dalam hal ini saya ngga akan nulis panjang lebar di sini. Tokh, saya rasa udah banyak juga yang memberi solusi kok. Tinggal pelaksanaannya saja.....
Nah, sekarang kembali aja ke diri masing-masing. Seperti halnya soal teh gopek tadi, saya sebisa mungkin beli barang bikinan Indonesia. Mie Instant, ngga bisa berpaling hati, tetep saya setia dengan Indomie sampe numpuk di lemari dapur. Bumbu-bumbu instant juga (Ketahuan ga bisa masak yah heheh....). Jujur aja jaman dulu (banget) saya juga selalu mikir "ah bikinan Indonesia". Tapi sejak kapan pikiran ini berubah, saya sendiri ga tau dan untungnya berubah! Yang pasti kalo sedang mau beli sesuatu dan ada pilihan di mana salah satu dari product tersebut berlabel "Made in Indonesia", maka saya langsung ambil barang itu walau kadang lebih mahal dibanding yang bikinan China misalnya. Yah agak bias sih memang, tapi ga apa-apalah. Pokoknya, (ngutip iklan Maspion jaman dulu) "Cintailah produk-produk buatan Indonesia".
p.s: Gambar mousepad di atas ngutip dari pemiliknya tanpa ijin
Sunday, August 29, 2010
PBB yang sedang berubah wajah
Hari Jumat kemarin sepulang kantor saya iseng-iseng menyempatkan jalan-jalan ke depan gedung PBB. Entah apa yang menyebabkan saya tiba-tiba ingin pergi ke sana. Mungkin karena kebetulan lokasinya yang dekat dengan kantor, cuma sekitar 5 menit jalan kaki. Mungkin juga kebetulan untuk ke sana bisa motong jalan lewat taman dan apartement-apartement mahal yang jalan-jalannya dipenuhi pepohonan rindang, yang membuat siapapun betah berada di sana. Ya betah, apalagi untuk orang yang jelas-jelas ga mampu beli apartement di daerah situ macam saya ini hehehe.....
Pas sampai sana... walah... ternyata gedung PBB sedang dipermak besar-besaran. Kaca-kaca warna biru, yang menurut saya nGhamblik (apa yah Bahasa Indonesia-nya yang tepat?) karena ga cocok dengan arsitektur gedung yang dirancang tahun 1950-an, sebagian sudah pada dilepas. Perasaan waktu saya ke sini sekitar 3 bulan-an lalu, belum dipermak begini. Belakangan saya baru tau kalo ternyata rencana untuk merenovasi gedung PBB dalam skala besar-besaran udah lumayan lama. Alasannya bagian dalamnya sudah lama ga direnovasi. Apa ini mungkin yang menginspirasi DPR kita untuk latah berencana merenovasi gedung juga kali ya? Ga tau kalo soal ini saya.
Iseng-iseng, saya ambil foto gedung ini pake kamera HP. Sambil membaur bareng beberapa turis-turis yang juga lagi sibuk jepret-jepret buat kenang-kenangan, saya ngambil foto gedung PBB. Sebelum saya foto, sempat tertegun sebentar gara-gara ngeliat bendera Timor Leste berkibar dengan gagahnya. Bendera Indonesia malah ngumpet ga tau di mana hehehe....
Yah mudah-mudahan perubahan wajah PBB ini ga cuman sekedar hanya dari segi tampilan fisik gedung saja tapi juga dalam menyikapi berbagai masalah di dunia ini. Semoga kedepannya PBB bisa bersikap makin independent dari pengaruh negara2 kuat dan bersikap lebih netral dalam setiap keputusannya. Untuk Indonesia, semoga bisa berperan dengan elegant dan disegani di level dunia internasional seperti jaman Bung Karno dulu. Jangan sampai peranannya tidak significant dan tersembunyi seperti letak benderanya saat ini.
Pas sampai sana... walah... ternyata gedung PBB sedang dipermak besar-besaran. Kaca-kaca warna biru, yang menurut saya nGhamblik (apa yah Bahasa Indonesia-nya yang tepat?) karena ga cocok dengan arsitektur gedung yang dirancang tahun 1950-an, sebagian sudah pada dilepas. Perasaan waktu saya ke sini sekitar 3 bulan-an lalu, belum dipermak begini. Belakangan saya baru tau kalo ternyata rencana untuk merenovasi gedung PBB dalam skala besar-besaran udah lumayan lama. Alasannya bagian dalamnya sudah lama ga direnovasi. Apa ini mungkin yang menginspirasi DPR kita untuk latah berencana merenovasi gedung juga kali ya? Ga tau kalo soal ini saya.
Iseng-iseng, saya ambil foto gedung ini pake kamera HP. Sambil membaur bareng beberapa turis-turis yang juga lagi sibuk jepret-jepret buat kenang-kenangan, saya ngambil foto gedung PBB. Sebelum saya foto, sempat tertegun sebentar gara-gara ngeliat bendera Timor Leste berkibar dengan gagahnya. Bendera Indonesia malah ngumpet ga tau di mana hehehe....
Yah mudah-mudahan perubahan wajah PBB ini ga cuman sekedar hanya dari segi tampilan fisik gedung saja tapi juga dalam menyikapi berbagai masalah di dunia ini. Semoga kedepannya PBB bisa bersikap makin independent dari pengaruh negara2 kuat dan bersikap lebih netral dalam setiap keputusannya. Untuk Indonesia, semoga bisa berperan dengan elegant dan disegani di level dunia internasional seperti jaman Bung Karno dulu. Jangan sampai peranannya tidak significant dan tersembunyi seperti letak benderanya saat ini.
Wednesday, August 25, 2010
Teh Botol: 10 tahun yang lalu dan sekarang.....
Pagi ini waktu di kantor saya iseng-iseng chatting sama temen saya. Ya, saya tau chatting sambil kerja itu ga produktif, ga benar, dan merupakan penyalahgunaan fasilitas kantor. Dan setiap penyalahgunaan fasilitas kantor berarti korupsi. Ah, tapi saya khan orang Indonesia... korupsi itu sudah budaya, bukan sesuatu yang perlu ditutupi lagi. Kalo perlu malah saingan banyak-banyakan dan hebat-hebatan korupsi. Lho sebentar... koq jadi ngelantur....
Begini, yang saya omongkan sama temen saya tadi itu soal harga. Harga? ya ... harga, bermula dari harga sepiring batagor dan siomay abang-abang pada waktu SMA 10 tahun yang lalu. Kemudian merembet ke harga teh botol. Kalo kata temen saya ini, harga teh botol dulu sebotol Rp 1.000. Barusan saya check lagi sama temen yang laen (maklum ingetan saya jelek banget), yang satu bilang Rp 1.000 juga, yang satu bilang Rp 1.500. Nah, berarti kalo kita pake patokan itu, harga teh botol sejak 10 tahun lalu sampe sekarang udah naek berapa kali lipat? Bisa dihitung kan?
Nah, sekarang tiba bagian yang saya ga ngerti. Dari jaman dulu sampe sekarang kan nilai tukar US Dollar terhadap Rupiah ga jauh-jauh dari kisaran Rp 10.000. Tapi kenapa harga teh botol, dan harga-harga laen bisa melonjak? Berarti taun 2000 pake duit sepuluh rebu perak, bisa dapet 10 botol teh. Kalo sekarang, paling2 dapet 3 botol kali ya? Ini baru teh botol. Belom bandingin harga daging, ongkos metromini, martabak (koq martabak? ga tau juga), dan banyak lagi yang bisa bikin blog ini ga muat. Berarti harga barang-barang di Indonesia diukur pake Rupiah maupun Dollar melonjak. Kalo begitu, standard hidup orang Indonesia menurun donk?
Lalu kenapa hal ini bisa terjadi? Katanya pertumbuhan ekonomi kita pesat. Tapi kok begini? Yah..... saya ga ngerti juga jelasinnya. Saya rasa bapak-bapak pejabat dan para pakar ekonomi bisa ngasi penjelasan panjang lebar, yang buntut-buntutnya bakal bikin saya makin pusing dan kliyengan..... Tapi pak.... rakyat ga butuh penjelasan panjang lebar... butuhnya supaya harga-harga jangan naek terus.....
p.s: Blog ini tidak ada kaitannya maupun disponsori oleh Teh Botol Sosro.
Begini, yang saya omongkan sama temen saya tadi itu soal harga. Harga? ya ... harga, bermula dari harga sepiring batagor dan siomay abang-abang pada waktu SMA 10 tahun yang lalu. Kemudian merembet ke harga teh botol. Kalo kata temen saya ini, harga teh botol dulu sebotol Rp 1.000. Barusan saya check lagi sama temen yang laen (maklum ingetan saya jelek banget), yang satu bilang Rp 1.000 juga, yang satu bilang Rp 1.500. Nah, berarti kalo kita pake patokan itu, harga teh botol sejak 10 tahun lalu sampe sekarang udah naek berapa kali lipat? Bisa dihitung kan?
Nah, sekarang tiba bagian yang saya ga ngerti. Dari jaman dulu sampe sekarang kan nilai tukar US Dollar terhadap Rupiah ga jauh-jauh dari kisaran Rp 10.000. Tapi kenapa harga teh botol, dan harga-harga laen bisa melonjak? Berarti taun 2000 pake duit sepuluh rebu perak, bisa dapet 10 botol teh. Kalo sekarang, paling2 dapet 3 botol kali ya? Ini baru teh botol. Belom bandingin harga daging, ongkos metromini, martabak (koq martabak? ga tau juga), dan banyak lagi yang bisa bikin blog ini ga muat. Berarti harga barang-barang di Indonesia diukur pake Rupiah maupun Dollar melonjak. Kalo begitu, standard hidup orang Indonesia menurun donk?
Lalu kenapa hal ini bisa terjadi? Katanya pertumbuhan ekonomi kita pesat. Tapi kok begini? Yah..... saya ga ngerti juga jelasinnya. Saya rasa bapak-bapak pejabat dan para pakar ekonomi bisa ngasi penjelasan panjang lebar, yang buntut-buntutnya bakal bikin saya makin pusing dan kliyengan..... Tapi pak.... rakyat ga butuh penjelasan panjang lebar... butuhnya supaya harga-harga jangan naek terus.....
p.s: Blog ini tidak ada kaitannya maupun disponsori oleh Teh Botol Sosro.
Subscribe to:
Posts (Atom)




