Tuesday, September 7, 2010

Made in Indonesia

Sore ini tadi saya minum teh Gopek beraroma Jasmine. Jujur aja saya merasa lega banget adik saya nemu teh ini di lemari dapur apartement kami, dan untungnya lagi belum basi hehehe.... Yang jelas, teh ini diseruput anget-anget rasanya sangat enak. Kenapa saya ngomong begini? Karena sudah beberapa hari ini minumnya teh India yang (menurut saya) baunya malah seperti obat batuk rasa cherry. Berhubung tempat yang jualan barang-barang Indonesia agak jauh, maka terpaksa minum teh beraroma cherry (obat batuk) itu.......

Gara-gara soal teh ini, saya jadi kepikiran tentang barang-barang bikinan Indonesia. Sekarang ini, menurut saya, barang-barang bikinan Indonesia secara persentase jumlahnya makin dikit kalo dibandingin buatan negara lain. Misalnya kalo sekarang ini saya mau beli barang, entah itu mulai dari sekedar pensil sampai iphone4 yang rela bikin orang ngantri berjam-jam, kemungkinan besar pasti barang tersebut berlabelkan "Made in China". Bahkan pakaian-pakaian berlabel desainer kelas dunia pun mayoritas buatan China. Padahal bisa dipastikan 20 tahun yang lalu, hal ini belum terjadi.

Jangankan dibandingkan dengan China, dengan negara-negara tetangga ASEAN aja Indonesia kalah. Contohnya? ya dilihat saja industri otomotif di tanah air. Dari segi jumlah model, mayoritas pasti rakitan Thailand. Bisa dibilang yang dirakit Indonesia kalah teknologinya (harganya juga) dengan yang rakitan Thailand.  Emangnya apa hebatnya sih Thailand dibanding Indonesia? Kalo rakitan Jerman, Jepang, atau Amerika sih saya bisa paham. Perasaan jaman saya masih SD atau SMP dulu, semua mobil dirakit di Indonesia. Kalaupun import (dan ini biasanya cuma yang super special aja, ga seperti sekarang) juga dari negara asalnya, bukan dari Thailand!

Lha lantas gimana? Yang menyebabkan ini semua apa? Kenapa koq negara lain bisa jadi basis produksi sementara Indonesia semakin kalah bersaing?  Apa ini karena barang-barang buatan Indonesia jelek kualitasnya? Atau karena ini persoalan infrastruktur yang ngga memadai? Atau karena permasalahan birokrasi? Atau karena bangsa kita selalu menganggap buatan luar negeri, ga peduli luar negerinya mana, itu selalu superior? Dan mungkin masih banyak atau-atau yang lain yang entah bisa sampai berapa banyak lagi kalau mau disebutkan satu persatu.

Jadi? Solusinya? Ya saya bukanlah pembuat kebijakan yang punya wewenang untuk mengatur atau mengubah ini menjadi itu atau  A menjadi B. Jadi dalam hal ini saya ngga akan nulis panjang lebar di sini. Tokh, saya rasa udah banyak juga yang memberi solusi kok. Tinggal pelaksanaannya saja.....

Nah, sekarang kembali aja ke diri masing-masing. Seperti halnya soal teh gopek tadi, saya sebisa mungkin beli barang bikinan Indonesia. Mie Instant, ngga bisa berpaling hati, tetep saya setia dengan Indomie sampe numpuk di lemari dapur. Bumbu-bumbu instant juga (Ketahuan ga bisa masak yah heheh....). Jujur aja jaman dulu (banget) saya juga selalu mikir "ah bikinan Indonesia". Tapi sejak kapan pikiran ini berubah, saya sendiri ga tau dan untungnya berubah! Yang pasti kalo sedang mau beli sesuatu dan ada pilihan di mana salah satu dari product tersebut berlabel "Made in Indonesia", maka saya langsung ambil barang itu walau kadang lebih mahal dibanding yang bikinan China misalnya. Yah agak bias sih memang, tapi ga apa-apalah. Pokoknya, (ngutip iklan Maspion jaman dulu) "Cintailah produk-produk buatan Indonesia".



p.s: Gambar mousepad di atas ngutip dari pemiliknya tanpa ijin

2 comments:

  1. Baterai ABC juga buatan Indonesia yang Go International !!

    ReplyDelete
  2. Saudaranya, kecap ABC, juga menghiasi rak-rak supermarket Asia di sini loh hehehe....

    ReplyDelete